12 Desember 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Juq Kehje Sewen, Pulau Buatan Khusus Habitat Orangutan Kaltim


Juq Kehje Sewen, Pulau Buatan Khusus Habitat Orangutan Kaltim
Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran orangutan di Juq Kehje Sewen. Foto: Yovanda/Mongabay Indonesia

KLIKSENDAWAR.COM - Sebanyak 10 individu orangutan menjalani proses pra-pelepasliaran di sebuah pulau buatan bernama Juq Kehje Sewen. Artinya, Pulau Orangutan. Uniknya, pulau yang ditumbuhi pepohonan besar ini masuk kawasan perkebunan kelapa sawit PT Nusaraya Agro Sawit (NAS) seluas 82,84 hektare.

Terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim), Juq Kehje Sewen berdekatan dengan Hutan Kehje Sewen yang dikelola PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI). Pulau tersebut dikelilingi sungai sedalam tiga meter yang dipastikan, orangutan tidak dapat keluar dari kawasan itu.

Seluruh orangutan ini sudah lulus sekolah hutan (SH) di Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Samboja Lestari. Mereka adalah, Sakura, Arnold, Derek, Josta, Kikan, Lesli, Louis, Menur, Mouri, dan Totti.

CEO BOSF, Jamartin Sihite mengatakan, Juq Kehje Sewen merupakan pulau buatan untuk orangutan terluas di Kaltim. Dipastikan, pulau tersebut menjadi babak baru bagi kehidupan 10 orangutan yang akan belajar bertahan di alam liar. Juga, berkesempatan membentuk keluarga baru.

“Pulau buatan yang ada memang ditujukan untuk proses rehabilitasi orangutan tahap lanjut. Dari SH 1, mereka magang di pulau-pulau kecil yang ada di Samboja. Lalu dari Samboja mereka magang lagi di Juq Kehje Sewen. Setelah itu, mereka siap dilepasliarkan di hutan belantara Kehje Sewen," ujar Jamartin.

Untuk menuju Juq Kehje Sewen, seluruh orangutan ditempatkan di kandang. Mereka dinaikkan mobil bak terbuka yang dikawal polisi hutan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim. Setelah menempuh perjalanan darat lebih dari 12 jam, 10 orangutan tersebut langsung dilepaskan dari kandang untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

“Pepohonan di pulau ini besar-besar, mereka akan belajar mengenali dahan yang kuat untuk bergantung. Setelah keluar dari pulau ini, mereka akan lebih cepat beradaptasi di hutan belantara. Proses ini merupakan terobosan baru BOSF dalam merehabilitasi orangutan yang tak lagi menggunakan kandang,” jelas Jamartin.

Sebelum membentuk pulau buatan, BOSF dan PT. NAS lebih dulu melakukan survei lokasi yang dibutuhkan. Hutan yang dipilih merupakan hutan berkualitas, terisolasi oleh air sungai sepanjang tahun, tidak ada populasi orangutan liar, cukup luas untuk mendukung kemampuan adaptasi, pakan yang cukup, dan mampu menampung sekitar 40 orangutan.

“Kita tidak boleh terus-terusan bergantung dengan kandang. Kalau dilihat kebutuhan, kami masih butuh beberapa pulau lagi untuk orangutan yang mengantri untuk dilepaskan,” ungkapnya.

Menurut Jamartin, lokasi pra pelepasliaran ini masuk kawasan perkebunan kelapa sawit. Pola kemitraan untuk koservasi orangutan dengan perusahaan kelapa sawit menjadi terobosan baru pelestarian orangutan. Sebab, selama ini perusahaan kelapa sawit dikenal sebagai musuh orangutan.

“Harapan kita adalah sawit tidak hanya sebagai sumber masalah, tapi juga sumber solusi ke depan, agar orangutan selamat. Kita harapkan ini bukan akhir dari persoalan tapi awal bagaimana kita menyelesaikan persoalan,” katanya.



Reporter : Mongabay Indonesia    Editor : Juna Basir



Comments

comments


Komentar: 0