12 Desember 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Novita Bulan: Perempuan Mahulu Masih Sulit Akses Kesehatan


Novita Bulan: Perempuan Mahulu Masih Sulit Akses Kesehatan
Ketua DPRD Mahakam Ulu, Novita Bulan, saat menghadiri deklarasi DPP Naluri Perempuan Setara (Napas), Senin 28 Agustus 2017 (Foto: KLIKSAMARINDA.COM)

KLIKSENDAWAR.COM - Perempuan di Indonesia dianggap masih menjadi warga negara kelas dua. Keadilan dan kesetaraan sebagai langkah afirmasi terus diupayakan, guna meningkatkan kapasitas perempuan yang mampu berkontribusi lebih bagi pembangunan.

Ditemui usai deklarasi DPP Naluri Perempuan Setara (Napas) beberapa waktu lalu, Ketua DPRD Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Novita Bulan kepada KlikSamarinda (KlikGroup) mengatakan, keterbukaan informasi publik memberikan peluang besar terhadap perempuan.

Peranan perempuan mulai dari keluarga dan negara tak bisa dipandang sebelah mata. Dengan demikian, perempuan sudah seharusnya menempa kapasitasnya secara simultan.

“Mesti ada waktu untuk perempuan mempelajari dirinya sendiri, potensi kekuatannya, agar yang sudah ada sekarang dioptimalkan lebih baik lagi,” ujar Novita Bulan.

Novi, sapaannya, turut memberikan contoh problem perempuan yang dihadapi di daerah perbatasan seperti di Mahulu. Perempuan di Mahulu masih sulit mendapatkan akses kesehatan.

Fasilitas dan tenaga medis di Mahulu, menurut Novi, masih sangat minim. Ditambah problem infrastruktur yang menyulitkan mobilitas masyarakat sedikit panjang menempuh waktu dari satu daerah ke daerah lainnya.

“Petugas medis masih sangat tradisional. Kami sudah mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan skill para medis ini untuk dimajukan. Sebab, masyarakat sedikit banyaknya lebih percaya medis tradisional,” imbuh dia.

Terpisah, Ketua Dewan pengurus pusat Naluri Perempuan Setara (Napas) Kaltim melalui Ketuanya Siska Lawing mengatakan, maind set organisasi perempuan sekarang ini harus berubah.

Saatnya tidak hanya pemberdayaan, tapi juga berifat ideologis agar mampu mengurangi gap kesenjangan pemahaman di antara kalangan perempuan.

“Advokasi sangat penting juga dilakukan sebagai salah wujud solidaritas kepada perempuan lainnya yang masih terjebak kemiskinan. Kalau bukan perempuan sendiri dengan siapa lagi?” ungkap Siska. (*)

Reporter : Yoyok Sudarmanto    Editor : Revo Adi Merta



Comments

comments


Komentar: 0