20 November 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Tanjung Isuy, Kampung Rawa Oase Mahakam yang Bikin Jatuh Cinta


Tanjung Isuy, Kampung Rawa Oase Mahakam yang Bikin Jatuh Cinta
Rumah terapung di sepanjang aliran Sungai Ohong.

KLIKSENDAWAR.COM- Bahrudin, 74 tahun, perajin patung Dayak Benuaq, di kampung Tanjung Isuy, Kecamatan Jempang, Kutai Barat, Kalimantan Timur, merasa bersyukur. Suatu hari pada 1999, dia bersama para pengusaha kecil dan perajin tradisional se-Kalimantan Timur dikumpulkan di Samarinda. Sebuah bank pemerintah menawarkan kredit murah untuk pengembangan usaha kecil dalam pertemuan itu.

Dari 36 orang yang hadir, 35 orang setuju mengambil kredit. Hanya Bahrudin yang menolak. Koleganya semua menertawakan karena menganggapnya bodoh menolak tawaran modal berbunga rendah.

Di masa itu, bisnis kerajinan tradisional Dayak sedang naik daun. Pariwisata Kalimantan Timur sedang diminati. Semua optimistis dengan masa depan. Berpuluh turis datang mengunjungi Tanjung Isuy setiap pekan. Pertunjukan seni tradisional Dayak Benuaq digelar setiap hari untuk menyambut wisatawan datang.

“Kami sampai dibilang orang gila karena setiap hari ke mana-mana memakai pakaian adat,” ujar Bahrudin, yang juga pemilik Wisma Wisata, satu dari dua penginapan backpacker yang masih tersisa di Tanjung Isuy kini.

Tidak hanya disibukkan melayani turis dan memahat patung, Bahrudin juga sibuk bisnis. Masa itu, setiap tiga bulan sekali ia harus bolak-balik Jakarta – Denpasar – Balikpapan - Tanjung Isuy mengirim patung-patung Dayak ukuran besar yang banyak dipesan untuk hiasan eksterior hotel-hotel di Bali dan Jakarta.

“Situasi itu berbalik 180 derajat sejak bom Bali 2002. Turis sepi, hanya satu-dua orang datang tiga bulan sekali, menginap pun sebentar. Keadaan mulai berubah awal tahun ini, turis perorangan mulai datang kembali,” ujar Bahrudin.

Dan yang membuat Bahrudin bersyukur, ia tidak sampai terjebak utang bank ketika 10 tahun terakhir pariwisata Tanjung Isuy sepi. “Beberapa teman harus menjual rumah untuk mengembalikan utang bank. Saya tidak. Hanya satu penginapan saya Wisma Wisata II terpaksa saya tutup karena tidak ada tamu datang,” ujar Bahrudin, satu dari sedikit seniman Dayak Benuaq yang masih tersisa.



Reporter : Inara Dafina    Editor : Juna Basir



Comments

comments


Komentar: 0